Kabar Cabang
Trending

Enam Anggota Perguruan Silat Jadi Tersangka, Ketua LKBH PSHT Kecam Inkonsistensi Polisi Dalam Penerapan Pasal

KARANGANYAR- lkbhpsht.or.id Berlarutnya proses hukum kasus perusakan dan penganiayaan yang melibatkan enam anggota salah satu perguruan silat di Kabupaten Karanganyar memantik kecaman dari Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT)’

 

Ketua LKBH PSHT Rudy Hartono mengatakan, pihaknya menyayangkan cara kerja penyidik dalam menangani kasus ini. Setelah melakukan masa perpanjangan penahanan dua kali, semestinya berkas kasus segera dilimpahkan ke Pengadilan Negeri (PN) Karanganyar.

 

“Tapi penyidik justru memperpanjang lagi masa penahanan melalui permohonan ke PN Karanganyar dengan merubah pasal yang digunakan, yakni dari Pasal 170 KUHP dan atau Pasal 406 KUHP, dirubah menjadi 170 Ayat (2) ke (2). Ini namanya inkonsisten. Penyidik sepertinya kesulitan melengkapi alat bukti yang cukup untuk melimpahkan, atau bahkan mereka tidak yakin,” katanya.

 

Jika merujuk Pasal 170, ancaman hukuman bagi para tersangka maksimal 5 tahun, 6 bulan, namun jika Pasal tersebut ditambah ayat (2) ke (2), maka ancaman hukumannya menjadi 9 tahun. Ayat (2) ini dimaksudkan jika dalam kejadian terdapat korban luka berat.

 

“Padahal usai kejadian tidak ada korban luka berat. Kami sepakat bahwa siapapun yang bersalah dalam kasus ini harus diproses hukum secara adil. Tapi caranya jangan seperti ini. Ini sudah Zaman Presisi bukan di zaman batu lagi, menyangkut kepastian hukum sembrono” tegasnya.

 

Dalam kasus ini, LKBH PSHT diakui Rudy telah ditunjuk langsung oleh tersangka menjadi Tim Kuasa Hukum dalam menghadapi persidangan mendatang. Sedikitnya ada 7 pengacara berpengalaman diturunkannya di Karanganyar untuk membela para tersangka.

 

“Dari pendalaman yang telah kami lakukan bersama tim, polisi dalam penanganan kasus ini harus lebih fair. Jangan hanya fokus mempidanakan tersangka dengan merubah pasal untuk memperpanjang masa penahanan, tapi penyebab dari kejadian itu mestinya juga menjadi bahan pertimbangan,” tutur Rudy.

 

Perusakan dan penganiayaan yang dituduhkan kepada para tersangka, menurut Rudy merupakan imbas dari upaya membela diri. Para tersangka membela diri lantaran diserang dengan lemparan batu oleh sejumlah orang tak dikenal saat melintas di wilayah Mojogedang, Karanganyar.

 

“Akibat serangan, akhirnya terjadi aksi mempertahankan diri dengan saling lempar. Jadi tidak benar jika para tersangka ini dikatakan emosi kemudian ngamuk membabi buta karena tidak berhasil menemukan orang berinisial DT yang dicari diwilayah itu,” papar Rudy.

 

Kejadian perusakan dan penganiayaan terjadi setelah anggota PSHT dimediasi Polisi dipertemukan dengan DT. DT diduga menggungah ujaran kebencian, menghina perguruan silat enam tersangka melalui media sosial (medsos).

 

“Mereka ini sudah dimediasi di Polsek Mojogedang. Disana DT ini sudah membuat pernyataan permintaan maaf, dan permasalahan antara enam tersangka dan DT clear, selesai. Namun sepulang dari mediasi itu, enam tersangka ini diserang ditengah jalan. Kami punya buktinya berupa rekaman, dan lain sebagainya yang tidak bis akita sebutkan terlebih dahulu” sambungnya.

 

Selain mengamankan enam tersangka, dalam kasus ini polisi juga telah menciduk DT untuk selanjutnya dilakukan proses hukum dengan jerat pasal pelanggaran UU ITE tentang ujaran kebencian.

 

Mengingat kasus ini sangat berpotensi memicu konflik berkepanjangan, Rudy pun meminta kepada seluruh anggota perguruan silat PSHT Khusunya Solo Raya terutama rekan-rekan enam tersangka supaya bisa menahan diri, tidak terpancing provokasi.

 

“Saat ini proses hukum sedang berjalan, dan nanti tinggal dilihat apakah penyidik Satreskrim Polres Karanganyar bisa memenuhi harapan Kapolri untuk melayani dengan Presisi atau tidak,” pungkasnya. (*)

Related Articles

Close